define('DISABLE_WP_CRON', true); Bahasa Kasih

Bahasa Kasih

renungan harian Katolik
RSS icon Email icon Home icon
  • Sabtu, 4 September 2010

    Posted on September 4th, 2010 admin No comments

    1Kor 4:6b-15
    Mzm 145:17-21
    Luk 6:1-5

    Sabat

    Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.  -  Luk 6:5

    Sabat artinya menguduskan hari istirahat Allah setelah enam hari karya penciptaanNya.  Sabat Allah menjadi model untuk sabat manusia (Kel 20:8-11).  Sabat juga menguduskan karya pembebasan Allah.  Para budak dibebaskan dari bekerja, sebagaimana Allah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir (Ul 5:12-15).  Sabat juga adalah tanda perjanjian Allah dengan umatnya, dalam 10 Perintah Allah - Kuduskanlah hari Sabat (Kel 20:8).

    Singkatnya menurut Taurat, menaati Sabda berarti menaati perintah Allah, dan membawa keselamatan.  Namun cara ini membuat bangsa Yahudi ternyata menjadi sangat keras dalam cara bertindak dan berpikir.  Bahkan seringkali melampaui nilai-nilai kemanusiaan dan kasih yang harusnya berada di atas segalanya, seperti yang Yesus  ajarkan.  Oleh karena itulah ajaran Yesus sangat susah diterima bangsa Yahudi, karena Ia menentang dan mendobrak tatanan yang menjadikan manusia berpikir sempit ini.

    Ada banyak anak-anak yang merasa kehilangan orang tuanya karena mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor, bahkan ditambah lagi kesibukan pelayanan.  Hmm…bahkan bila seseorang begitu mengutamakan karya pelayanan di gereja dengan mengabaikan keluarganya sendiri, itupun juga bukan hal yang benar untuk dilakukan.  Dasar pelayanan kasih selalu berawal dari komunitas terkecil, yakni keluarga.

    Mana kala aturan dan larangan itu tidak lagi menjunjung nilai kasih, hendaknya kita lebih jeli untuk berpikir dan bertindak.  (Lie)

    Bagaimana sikap saya memandang keluarga dan sesama saya?
    Apakah saya hanya sekedar melaksanakan tatacara agama ataukah
    melihat dengan pandangan Kasih Allah?

    Co 4:6  Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: “Jangan melampaui yang ada tertulis”, supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain.
    1Co 4:7  Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?
    1Co 4:8  Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu.
    1Co 4:9  Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.
    1Co 4:10  Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina.
    1Co 4:11  Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara,
    1Co 4:12  kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar;
    1Co 4:13  kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.
    1Co 4:14  Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi.
    1Co 4:15  Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.

    Luk 6:1  Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya.
    Luk 6:2  Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?”
    Luk 6:3  Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,
    Luk 6:4  bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?”
    Luk 6:5  Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

  • Jumat, 3 September 2010

    Posted on September 3rd, 2010 admin No comments

    St. Gregorius Agung, Paus Pujangga Gereja

    1Kor 4:1-5
    Mzm 37:3-6,27-28,39-40
    Luk 5:33-39

    Memperbarui Kasih

    .. tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam
    kantong kulit yang tua…  -  Luk 5:37

    Anda mungkin pernah mendengar seorang pengkotbah yang hebat, menjadi terinspirasi, dan kemudian meng-idolakannya.  Setiap Anda mendengarnya berbicara di suatu tempat, Anda selalu datang untuk mendengarkannya.  Akan tetapi pada suatu titik Anda menyadari bahwa kotbah dari idola Anda selalu sama.  Walaupun Anda berkata bahwa selalu ada sesuatu yang baru yang Anda dapatkan, akan tetapi akhirnya Anda tidak begitu tertarik lagi mendengarkannya.

    Lain halnya apabila pengkotbah tersebut selalu membawakan renungan dan menceritakan pengalaman yang selalu baru.  Sama halnya apabila Anda menyukai pizza, tetapi apabila dalam seminggu Anda selalu disuguhi pizza, maka Anda akan menjadi mual juga.

    Setiap hari rohani kita juga membutuhkan makanan yang selalu baru.  Pengalaman-pengalaman yang selalu baru menjadi tolak ukur apakah kita bertumbuh dalam iman dan relasi kita dengan Tuhan.  Kita tidak bisa dipuaskan oleh hanya satu kesaksian mengenai kebaikan Tuhan yang kita alami, dan dalam sebulan hanya kesaksian itu yang selalu kita berikan berulang-ulang.  Dalam relasi kita dengan Tuhan, setiap hari kita perlu mendengar lagi Tuhan membisikkan kasihNya kepada kita dan kita menyatakan kasih kita kepadaNya.  Kasih yang selalu diperbarui setiap hari akan membawa kita ke pe-ngalaman yang baru juga.  (Pt)

    Setiakah saya berdoa untuk memperbarui relasi dengan Tuhan setiap hari?

    1Kor 4:1-5

    1    Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.
    2    Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai.
    3    Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiri pun tidak kuhakimi.
    4    Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan.
    5    Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.

    Luk 5:33-39

    33    Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus: ”Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum.”
    34    Jawab Yesus kepada mereka: ”Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?
    35    Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”
    36    Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: ”Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.
    37    Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur.
    38    Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.
    39    Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.”

  • Selasa, 2 September 2010

    Posted on September 1st, 2010 admin No comments

    1Kor 3:18-23
    Mzm 24:1-6
    Luk 5:1-11

    Patuh dan taat

    …sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa,  tetapi karena Engkau menyuruhnya…  -  Luk 5:5

    Suatu sore saat saya bersantai, telpon berdering dari se-orang tetangga.  “Pak, nanti malam datang ke rumah ya.  Kita mau bakar-bakar ikan hasil mancing.”  Malamnya, di sela menikmati ikan bakar, saya bertanya kepada teman tersebut kalau-kalau ia selalu mendapatkan ikan sebanyak ini dan besar-besar pula.  Ia pun dengan antusias bercerita bahwa ia memancing dengan naik “speed boat” dan ada komputer yang akan menunjukkan lokasi yang banyak ikannya.

    Saya jadi ingat ayat di atas.  Saya yakin Simon adalah se-orang nelayan profesional.  Tapi walaupun ia seorang profesional namun ia patuh dan taat tatkala Yesus menyuruhnya membawa perahunya ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jalanya.

    Pembaca yang setia, Anda dan saya mungkin adalah se-orang profesional dalam bidang kita masing-masing.  Namun seringkali kita merasa frustasi dan putus asa di saat rencana kerja yang sudah rapi disusun ternyata tidak dapat terealisasi.  Apalagi dalam menyusun suatu perencanaan seringkali kita juga menyiapkan berbagai alternatif penyelesaian seandainya rencana tersebut gagal.  Hari ini mari kita belajar dari Simon.  Belajar rendah hati dan mau mendengarkan Yesus.
    Mari kita bersama-sama mohon bimbingan Roh Kudus dalam mengerjakan segala sesuatu dan Yesuslah yang akan menyelesaikan permasalahannya.  (Au)

    Ya Yesus, tuntunlah saya dalam Roh Mu dalam mengambil keputusan..

    1Kor 3:18-23

    18    Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat.
    19    Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: ”Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.”
    20    Dan di tempat lain: ”Tuhan mengetahui rancangan-rancangan orang berhikmat; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka.”
    21    Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu:
    22    baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang. Semuanya kamu punya.
    23    Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah.

    Luk 5:1-11

    1    Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.
    2    Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.
    3    Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
    4    Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: ”Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”
    5    Simon menjawab: ”Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”
    6    Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.
    7    Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.
    8    Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: ”Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”
    9    Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap;
    10    demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: ”Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.”
    11    Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

  • Senin, 30 Agustus 2010

    Posted on August 29th, 2010 admin No comments

    1Kor 2:1-5
    Mzm 119:97-102
    Luk 4:16-30

    Di tempat asal…

    Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai
    di tempat asalnya.  -  Luk 4:24

    Omong memang mudah, tapi melakukan apa yang kita katakan tidaklah semudah mengatakannya.  Saya mungkin termasuk tipe yang berpikir lebih baik jangan banyak omong, tapi lakukan yang semestinya.  Itu lebih berarti daripada banyak omong tapi kelakuan minus.

    Ungkapan di atas bukan hanya teori, terutama karena saya hidup dalam suatu komunitas.  Ketika saya diharuskan memberikan pengajaran di depan anggota komunitas ataupun ketika saya diberi tanggungjawab tertentu dalam komunitas, ungkapan tersebut juga berlaku bagi diri saya.  Secara teori saya bisa bicara banyak tentang berdoa, komitmen, mengasihi dan banyak topik lain, namun saya yakin mereka yang mendengar saya berbicara akan berpikir dan melihat ke-nyataan dalam kehidupan saya.  Apakah benar saya melakukan semua yang saya omong?  Apakah saya sendiri sudah mempraktekkan apa yang saya ajarkan?

    Itulah sebabnya, mengajar di komunitas sendiri terasa lebih berat daripada saya berbicara di persekutuan atau kelompok lain.  Ya, mereka tidak mengenal saya.  Mereka tidak tahu bagaimana keseharian saya.  Tapi justru di situlah kuncinya.  Komunitas saya yang mampu menegur, mengingatkan dan memberi saya kesempatan untuk memperbaiki diri.  Sekalipun lebih sulit dan tidak enak, namun saya percaya inilah yang Tuhan inginkan.  Di dalam keluarga (komunitas) inilah saya mengalami pembentukan dan pertumbuhan untuk menjadi lebih baik lagi dan lagi dan lagi.  (Jc)

    Apakah perbuatan saya sesuai dengan apa yang saya katakan?

    16    Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
    17    Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:
    18    ”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku
    19    untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
    20    Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
    21    Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: ”Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”
    22    Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: ”Bukankah Ia ini anak Yusuf?”
    23    Maka berkatalah Ia kepada mereka: ”Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!”
    24    Dan kata-Nya lagi: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
    25    Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
    26    Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.
    27    Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.”
    28    Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.
    29    Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
    30    Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi.

  • Sabtu, 28 Agustus 2010

    Posted on August 28th, 2010 admin No comments

    St. Agustinus

    1Kor 1:26-31
    Mzm 33:12-13,18-21
    Mat 25:14-30

    Ngiri

    ..diberikanNya masing-masing menurut kesanggupannya…  -  Mat 25:15

    Saya pernah mengalami kecelakaan dan harus dirawat dokter spesialis tulang.  Kebetulan dokter yang saya temui adalah dokter terkenal.  Untuk bisa dilayani oleh beliau saya harus datang di atas jam sepuluh malam.  Terkadang harus menunggu lebih lama kalau ia belum selesai di ruang bedah.  Ketika akhirnya tiba giliran saya, ia bertanya satu dua pertanyaan dan selesai!  Total waktu bertemu dengannya tidak pernah lebih dari 10 menit.  Bagian paling mengesalkan tentu saja ketika saya harus merogoh kantong mengeluarkan 200 ribu untuk pertemuan maha singkat tersebut.

    Sulit untuk mencegah diri untuk tidak iri kepada si dokter.  Hanya ketemu pasien 10 menit dapat uang 200 ribu rupiah.  Meskipun setelah dipikir-pikir, kenyataannya tentu saja tidak seindah kelihatannya.  Tidak semua dokter dibayar seperti itu.  Dan bayangkan betapa sulit pekerjaan seorang dokter saat harus menangani bedah, belum lagi jam kerja yang panjang.  Dan seperti yang selalu diingatkan oleh seorang dokter yang saya kenal baik, jadi dokter itu lama dan sulit serta menghabiskan banyak uang.

    Iri hati mungkin kecenderungan hampir semua orang.  Dan se-ringkali iri hati itu meracuni pikiran kita.  Iri hati membuat kita tidak menyadari berkat-berkat yang kita terima.  Iri hati bisa membuat kita tidak melihat bahwa dalam diri kita juga diberikan talenta-talenta.  Atau yang paling parah, iri hati membuat kita tidak lagi merasa perlu mengembangkan talenta tersebut.  Kita bisa jadi berkata, “Buat apa?  Toh saya tidak sepintar si A.  Saya tidak secantik si B.  Saya tidak sekaya si C.”  Kalau demikian, ingatlah, Tuhan selalu menagih talenta yang Dia titipkan beserta bunganya.  (Jo)

    =============

    14    ”Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
    15    Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
    16    Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
    17    Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.
    18    Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
    19    Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.
    20    Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.
    21    Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
    22    Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.
    23    Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
    24    Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
    25    Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!
    26    Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?
    27    Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
    28    Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
    29    Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
    30    Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”
    Tinggalkan iri, mulailah mengembangkan talenta!

  • Rabu, 25 Agustus 2010

    Posted on August 25th, 2010 admin No comments

    2Tes 3:6-10,16-18
    Mzm 128:1-2,4-5
    Mat 23:27-32

    Bekerja kepada Tuhan

    Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan…  -  2Tes 3:10b

    Ketika pertama merefleksikan ayat di atas, saya beranggap-an mengapa kita harus mengasihani orang yang malas dan tidak mau bekerja?  Tapi kemudian saya berpikir bagaimana jika hal itu terjadi pada seorang yang usianya di atas 50 tahun, yang sudah tidak laku untuk bekerja di perusahaan dan perlu modal untuk berwiraswasta?      Setiap orang tentunya mempunyai impian untuk hidup tenang di masa tuanya dan menikmati masa pensiunnya dengan keluarganya.  Lalu, apakah tipe orang tersebut bisa kita katakan malas?  Saya mulai mengerti bahwa terkadang seseorang belum mempunyai kesempatan, dan masih banyak faktor lain yang di luar kendali.

    Saya jadi merenungkan kehidupan saya sendiri.  Memang, saya belum mencapai semua yang menjadi impian saya.  Tapi satu hal yang ingin saya bagikan adalah kemauan bekerja untuk Tuhan dengan talenta-talenta yang Ia berikan pada kita.  Jawaban “ya” dari kita yang Tuhan nantikan, maka yang lainnya akan ditambahkan tepat pada waktunya.

    Dari sisi usia dan kemampuan mungkin perusahaan dunia tidak membutuhkan kita, namun lowongan untuk berkarya di ladang Tuhan masih selalu terbuka.  (Au)

    —————–

    27    Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.
    28    Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.
    29    Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh
    30    dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu.
    31    Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu.
    32    Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!

  • Kamis, 18 Agustus 2010

    Posted on August 17th, 2010 admin No comments

    Yeh 36:23-28
    Mzm 51:12-15,18-19
    Mat 22:1-14

    Tak ada Waktu

    Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang
    pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya…  -  Mat 22:5

    Tono adalah usahawan yang sedang sukses.  Usaha yang dijalankannya menanjak pesat dan menghasilkan banyak uang.  Pagi-pagi sekali dia harus bergegas ke kantor mengurus pengiriman , siangnya bertemu dengan tamu yang akan melihat contoh hasil produksinya, sore sampai malam ia harus menyiapkan barang yang akan dikirim.  Sesampainya di rumah ia segera mandi dan tidur karena terlalu lelah.  Ketika hari Minggu tiba, ia memilih misa yang paling pagi lalu melanjutkan pekerjaannya.  Itulah kehidupan yang dijalani Tono.  Untuk bertemu dengan anak saja sangat sulit apalagi untuk doa pagi.  Seolah tiada waktu untuk keluarga danTuhan.

    Seringkali hidup kita berjalan sedemikian cepat.  Urusan kantor menggangu seluruh waktu kita, seakan masalah terjadi tiada henti.  Semua ini membuat seluruh energi kita terkuras.  Tidak jarang kita lupa berdoa karena terlalu sibuk.

    Teman, jika cara hidup kita seperti Tono, maka kita telah salah melangkah.  Memang pekerjaan itu penting, akan tetapi kita tetap perlu memprioritaskan Tuhan di atas pekerjaan.  Karena Yesus akan membantu kita mengatasi setiap masalah dan kelemahan kita.  Selama ini kita mencoba dengan kemampuan sendiri, jarang sekali kita melibatkan Tuhan di dalam pekerjaan kecuali ketika kita mendapat masalah.  Kita lupa bahwa dengan melibatkan Tuhan di dalam pekerjaan maka kita semakin mudah menyelesaikannya.  Sediakanlah waktu buat Tuhan dan berikanlah waktu yang terbaik, karena dari Dialah segala sesuatu yang kita miliki saat ini.  (An)

    Apakah saya memiliki waktu untuk berdoa?

    —————–

    1    Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:
    2    ”Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.
    3    Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.
    4    Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.
    5    Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya,
    6    dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.
    7    Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.
    8    Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.
    9    Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.
    10    Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.
    11    Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.
    12    Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.
    13    Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.
    14    Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”

  • Selasa, 17 Agustus 2010

    Posted on August 16th, 2010 admin No comments

    Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia

    Sir 10:1-8
    Mzm 101:1a,2ac,3a,6-7
    1Ptr 2:13-17
    Mat 22:15-21

    Unlimited

    Hormatilah semua orang, kasihilah saudara – saudaramu,
    takutlah akan Allah, hormatilah raja! 1 Petrus 2:17

    Waduh…mengasihi orang yang berkarakter sulit susahnya minta ampun.  Saya sedang dididik Yesus dalam hal ini.  Tidak tanggung-tanggung, sampai menguras air mata berkali-kali.  Bahkan tak jarang emosi saya meledak sehingga menimbulkan segala macam rasa…dari marah, benci, hingga akhirnya keluar kata-kata kasar dari mulut saya.

    Semakin banyak teman, semakin banyak kita menghadapi bermacam karakter dan tingkah laku.  Ada yang jadi peri gosip, ada yang mengirim sms dengan kata-kata kasar, ada yang di depan manis di belakang menjelekkan.  Sering timbul pertanyaan dalam hati mengapa Yesus menghadirkan orang-orang seperti itu di sekeliling saya?

    Ternyata setelah saya mengalami hal itu berkali-kali, saya sadar bahwa Yesus mau mengajarkan saya untuk mengasihi mereka dengan “unlimited” (baca: tidak terbatas).  Pengajaran ini membuat saya jatuh bangun dan hal ini merupakan proses pembelajaran seumur hidup.

    Hari ini Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi dengan tidak terbatas.  Saya jadi ingat akan sikap Yesus pada Thomas yang seringkali tidak percaya, kepada Petrus yang tiga kali menyangkalNya, bahkan kepada orang-orang yang telah menyalibkanNya.

    Teman, bersyukurlah kalau kita diingatkan untuk selalu me-ngasihi.  Mari kita belajar untuk mengasihi dengan lebih sungguh, dengan tidak terbatas.  Percayalah, Yesus sanggup memberi hati yang mengasihi kepada sesama tanpa batas.  (Art)

    Sudahkah saya mengasihi tanpa batas?

    ————

    15    Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.
    16    Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: ”Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka.
    17    Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”
    18    Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: ”Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?
    19    Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya.
    20    Maka Ia bertanya kepada mereka: ”Gambar dan tulisan siapakah ini?”
    21    Jawab mereka: ”Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

  • Sabtu, 14 Agustus 2010

    Posted on August 13th, 2010 admin No comments

    St. Maksimilianus Maria Kolbe

    Yeh 18:1-10,13b,30-32
    Mzm 51:12-15,18-19
    Mat 19:13-15

    Learn from Kids

    Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi
    mereka datang kepadaKu… - Mat 19:14

    Saya lebih sering mengikuti Ekaristi di sore hari, entah pada hari Sabtu atau Minggu. Bagi saya, hari libur adalah saat untuk bangun siang. Tapi kali ini saya harus mengerahkan niat untuk mengikuti misa di hari Minggu pagi. Awalnya cukup berat tapi saya kemudian bersyukur karena saya melihat pemandangan baru yang tak pernah saya dapatkan saat misa di sore hari.

    Sebelum menyambut Komuni, Romo meminta anak-anak untuk maju ke depan dan menerima berkat. Tak disangka, puluhan anak kecil berbaris rapi hingga ke pintu belakang gereja. Ada yang masih bayi dan digendong ibunya, balita yang digandeng ibunya, sampai anak yang telah bisa berjalan sendiri. Lucunya…

    Mereka menyilangkan kedua tangan di depan dada sebagai tanda mereka belum cukup umur untuk menerima Komuni. Sebuah pemandangan yang indah bagi saya. Wajah lugu mereka menggambarkan betapa mereka ingin segera tiba di depan dan memperoleh berkat. Di antara mereka ada yang celingak-celinguk tak mengerti untuk apa mereka berbaris dan menyilangkan tangan. Tapi saya tersadarkan oleh anak-anak itu. Mereka dengan sukacita menghampiri altar Tuhan untuk menerima berkat dari Romo. Saya merasa malu karena seringkali saya enggan ‘datang’ kepada Tuhan. Saya terlalu sibuk dengan kegiatan saya dan melupakan Dia. Firman Tuhan hari ini juga mengingatkan saya untuk terus menjadi seperti anak-anak Yesus yang selalu datang kepadaNya dengan penuh sukacita. (Ve)

    Apakah saya rajin ‘datang’ kepada Tuhan?

    ==========

    13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
    14 Tetapi Yesus berkata: ”Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”
    15 Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.

  • Kamis, 12 Agustus 2010

    Posted on August 11th, 2010 admin No comments

    Yeh 12:1-12
    Mzm 78:56-59,61-62
    Mat 18:21-19:1

    Double Standard

    Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga
    ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.  -  Mat 18:27

    Dari pengalaman saya memarahi anak, saya belajar bahwa ada satu reaksi yang ditunjukkannya dari dua kemingkinan ini.  Kemungkinan pertama adalah tatapan mata anak saya yang menunjukkan penyesalannya bahwa ia telah berbuat salah.  Kemungkin-an kedua adalah tatapan matanya yang menunjukkan bahwa ia takut kepada saya.  Dari reaksinya saya belajar menguji kema-rahan saya, apakah saya sudah memarahinya dengan kasih untuk mengkoreksi dia, atau saya sudah memarahinya karena merasa otoritas saya telah dilanggar olehnya.  Ketika saya menemukan bahwa alasan kedua yang muncul, itu bisa membuat saya menangis dan meminta maaf kepadanya.  Saya tidak mau anak saya memiliki ketakutan kepada saya.

    Dari bacaan Injil di atas, seringkali yang menjadi fokus saya adalah hamba yang berutang kepada raja  tersebut.  Yesus sedang mengajari agar kita jangan menghakimi orang lain, justru setelah membaca perikop Injil ini, saya langsung menghakimi hamba tersebut bahwa ia tidak tahu diri.  Hati sang raja menggambarkan hati Allah Bapa.  Ia tidak ingin kita bertobat karena ketakutan kita padanya, melainkan karena kita mengasihiNya.

    Demikian juga kita, saat kita marah pada seseorang, apa yang kita harapkan?  Agar orang itu menyesal atau agar orang itu dihukum?  Kalau kita tidak bisa mengampuni lagi orang tersebut maka alasan kedua lah yang kita cari, yaitu kita ingin memenjarakan dan menguasai orang tersebut.  Maka Tuhan akan memperlakukan kita sesuai dengan standar kita.  (Pt)

    Apakah saya mengharapkan Allah bisa mengampuni saya terus-menerus, sedangkan saya tidak bisa mengampuni orang terus-menerus?

    —————-
    21    Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: ”Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”
    22    Yesus berkata kepadanya: ”Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
    23    Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
    24    Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
    25    Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
    26    Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
    27    Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
    28    Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
    29    Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
    30    Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
    31    Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
    32    Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
    33    Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
    34    Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
    35    Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”