Bahasa Kasih
renungan harian Katolik-
Rabu, 10 Maret 2010
Posted on March 10th, 2010 No commentsUl 4:1,5-9
Mzm 147:12-13,15-16,19-20
Mat 5:17-19I have a big god!
Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepadaNya? - Ul 4:7
Beberapa waktu lalu seorang teman baru saja putus cinta. Setelah menjalin hubungan bertahun-tahun, tiba-tiba pacarnya meninggalkannya karena dirasa tidak ada lagi kecocokan. Sebagai sesama wanita, saya memahami bagaimana sakit yang dirasakan teman saya. Berhari-hari dia dirundung kesedihan. Tidak mau makan, datang ke kantor dengan pikiran kosong, air mata mudah sekali menetes, dan yang paling parah dia menjadi sangat putus asa hingga keluar kata-kata ‘lebih baik bunuh diri saja’. Saya terkejut saat dia berulang kali berkata demikian. Sebegitu mudahnyakah mengakhiri kehidupan? Apakah patah hati membuat orang menjadi tak mampu lagi menghargai hidup atau mensyukuri segala berkat yang telah Tuhan berikan? Apakah patah hati menjadi masalah yang paling berat di dunia ini?
Kemudian perlahan saya mencoba menyadarkannya bahwa seharusnya dia tidak putus asa seperti itu. Saya katakan padanya, “Masalah yang begitu besar boleh datang dalam kehidupan kita. Tapi kita memiliki Tuhan yang jauh lebih besar, yang akan membantu kita menghadapi masalah tersebut. Jangan pernah menyerah!”
Teman, masalah akan terus datang silih berganti. Yang perlu kita lakukan adalah berjuang menghadapi masalah tersebut sambil terus percaya bahwa kita memiliki Tuhan yang tak pernah jauh dari kita. Bila saat ini kita sedang menghadapi masalah berat, jangan pernah menyerah. Harapan akan selalu ada di dalam Dia. (Ve)
Apakah saya mengandalkan Tuhan dalam menghadapi masalah?——————-
Mat 5 : 17 - 1917 ”Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. -
Selasa, 9 Maret 2010
Posted on March 9th, 2010 No commentsDan 3:25,34-43
Mzm 25:4bc-5ab,6-7bc,8-9
Mat 18:21-35
Hanya Perlu Satu AlasanLalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu,
sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
- Mat 18:27“Saya sangat terluka, saya tidak bisa mengampuni dia.”
“Dia sudah menyakiti saya berulang kali, saya tidak mau memaafkan dia.”
“Kalau dia minta maaf, barulah saya akan memaafkan dia.”
“Dia tidak pantas dimaafkan..”
Kita punya begitu banyak alasan untuk tidak mengampuni. Terkadang alasan tersebut memang bisa diterima akal. Kalau kita begitu disakiti, dikecewakan, dikhianati… tidak heran pe-ngampunan begitu sulit dilepaskan. Kita punya banyak alasan untuk tidak mengampuni. Apakah kita punya alasan untuk mengampuni?
Sebenarnya hanya dibutuhkan satu alasan saja untuk mau mengampuni orang lain: Tuhan sudah mengampuni kita. Dalam kemurahanNya Tuhan berbelas kasih kepada kita. Dia mengampuni semua dosa dan kesalahan kita kepadaNya. Dia menghapuskan semua hutang dosa kita yang begitu besar. Yang kita perlu pelajari hanya bagaimana kita bisa berlaku hal yang sama kepada sesama kita. Ampunilah karena kamu sudah diampuni! (Jo)
Apakah saya bersedia berbelas kasih seperti Tuhan
dengan mengampuni yang bersalah kepada saya? -
Senin, 8 Maret 2010
Posted on March 7th, 2010 No comments2Raj 5:1-15a
Mzm 42:2-3; 43:3-4
Luk 4:24-30Mukjizat itu ada
Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu,
bukankah bapak akan melakukannya? - 2Raj 5:13Di zaman dengan kemajuan teknologi yang pesat seperti sekarang ini banyak yang meragukan kalau mukjizat itu masih ada.
Saat pendaftaran perguruan tinggi sudah mulai dibuka, saya pun dibingungkan ke mana anak saya harus melanjutkan studinya. Berbagai usaha saya lakukan, serta tak lupa berdoa agar anak saya bisa diterima tanpa tes dan membayar sesuai dengan kemampuan. Dan hasilnya, puji Tuhan. Puteri saya diterima lewat jalur bebas tes dan biaya dapat diangsur sesuai dengan kemampuan saya.
Saya yakin Anda pun pernah mengalami kemurahan kasih Tuhan seperti yang juga dialami oleh Naaman dalam bacaan pertama hari ini. Kita terlalu sering mengharapkan mukjizat yang spektakuler, namun lupa pada intinya. Yakni yang paling mendasar adalah dengan berdoa, penuh keyakinan bahwa Tuhan tidak akan menelantarkan kehidupan kita. Lewat hal-hal yang kelihatannya sangat sederhana, Tuhan sanggup melakukan karyaNya. (Au)
Ketika saya berdoa, apakah saya yakin Tuhan akan menjawab doa saya?——————-
Luk 4:24-3024 Dan kata-Nya lagi: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.
27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.”
28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu.
29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.
30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. -
Minggu, 7 Maret 2010
Posted on March 6th, 2010 No commentsHari Minggu Prapaskah III
Kel 3:1-8a,13-15
Mzm 103:1-4,6-8,11
1Kor 10:1-6,10-12
Luk 13:1-9
Tungku Peleburan
Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. - Kel 3:2Pada awal pertemuannya dengan Allah, Musa melihat semak belukar yang menyala tetapi tidak terbakar. Ia melihat kemuliaan Tuhan yang nyata dan luar biasa. Setelah itu Musa menjadi semakin dekat dengan Allah dan terbiasa untuk berbicara de-ngan Allah sambil memandang kemuliaan Allah. Setelah sekian lama, ketika Musa telah membawa orang Israel keluar dari Mesir dan ketika menerima tabut perjanjian, sekarang wajah Musa yang menjadi bercahaya memancarkan kemuliaan Tuhan yang hadir di dalam dia (Kel 34:29-30).
Hal ini mengingatkan saya pada proses pembentukan besi baja. Saat tukang besi membentuk sesuatu dari baja secara tradisional, ia akan memanaskannya di sebuah tungku api sebelum ditempa. Ketika panasnya sudah cukup untuk ditempa, baja tersebut akan berubah warnanya menjadi bercahaya dan cemerlang, menyatu dengan warna perapian. Tetapi apabila dijauhkan, baja tersebut mendingin dan warnanya kembali seperti semula.
Suatu hal yang dapat menjelaskan mengapa wajah Musa memancarkan kemuliaan Tuhan adalah karena Musa sangat dekat dengan Allah. Kedekatan kita dengan Allah juga bisa diukur dari seberapa jauh kita telah diubah semakin menyerupai Allah, seberapa kita terbuka terhadap pimpinan dan tuntunan Tuhan dalam hidup kita. Semoga semakin lama kita semakin menyerupai Dia dan tetap terbuka terhadap pembentukan Tuhan atas diri kita. (Pt)
Masihkah saya terbuka untuk terus diubah menjadi serupa dengan Yesus?
————————
Luk 13 : 1 -91 Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene,
2 pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.
3 Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: ”Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu,
4 seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.
5 Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan,
6 dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.”
7 Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: ”Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu supaya melarikan diri dari murka yang akan datang?
8 Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!
9 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.” -
Sabtu, 6 Maret 2010
Posted on March 6th, 2010 No commentsMi 7:14-15,18-20
Mzm 103:1-4,9-12
Luk 15:1-3,11-32
Pengampunan DosaSebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali,
ia telah hilang dan didapat kembali. - Luk 15: 24Untuk apa mengaku dosa kalau setelah itu kita akan berdosa lagi? Menurut saya ini sama seperti mengatakan, “Untuk apa minta maaf kepada…, kalau di kemudian hari kita akan berbuat salah lagi?”
Tentunya logika ini tidak benar. Karena rahmat pengampunan akan membantu kita semakin menjauhi dosa, dan kita akan merasa lega dan terbebas setelah diberi absolusi. Sebaliknya, justru logika yang salah itu akan dipakai oleh iblis untuk membohongi kita supaya menjauhi rahmat Tuhan yang ada dalam Sakramen Pengakuan.
Perumpamaan tentang anak yang hilang menggambarkan dengan jelas seperti apakah pengampunan dosa itu. Sukacita dan penerimaan sang ayah akan anaknya menggambarkan hati Bapa di surga ketika kita bertobat. Si anak pun diangkat dari dosanya dan kembali menjadi bagian dari keluarga ayahnya.
Dalam masa Prapaskah ini, seruan untuk bertobat dan me-ngaku dosa sering kita dengar. Bahkan Gereja memberikan waktu khusus untuk umat menerima Sakramen Pengakuan Dosa sebelum merayakan Paskah. Marilah kita menggunakan sarana yang telah Tuhan berikan ini agar kita dapat sungguh-sungguh bangkit bersama Tuhan saat perayaan kebangkit-anNya nanti. (Alw)
Apakah saya sudah menyiapkan hati dan menerima Sakramen Pengakuan
dalam masa Prapaskah ini?——————
1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: ”Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”
3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:11 Yesus berkata lagi: ”Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat.
15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.
16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya.
17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.
23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.
24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.
26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.
27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.
29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.
30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.
31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.
32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” -
Jumat, 5 Maret 2010
Posted on March 4th, 2010 No commentsKej 37:3-4,12-13a,17b-28
Mzm 105:16-21
Mat 21:33-43,45-46
Bukan Hak MilikIa akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya. - Mat 21:41
Bayangkan ini…
Suatu hari Anda pergi liburan ke luar negeri selama dua minggu. Anda pergi bersama seluruh keluarga Anda sehingga rumah Anda kosong. Anda memutuskan bahwa lebih baik ada yang menjaganya. Maka Anda pun meminta seorang teman baik untuk tinggal sementara di rumah Anda. Anda katakan: “Anggap saja rumah sendiri. Silahkan pakai apa yang kamu butuhkan. Ada TV kalau mau nonton. Silahkan nyalakan AC-nya. Pakai saja kulkasnya. Pokoknya anggap saja rumah sendiri deh.” Lalu Anda pun pergi dengan tenang karena tahu seorang teman baik menjaga rumah Anda.
Dua minggu kemudian Anda pulang dari liburan panjang. Alangkah terkejutnya Anda ketika Anda menemukan ada banyak perubah-an di rumah Anda. Teman Anda memutuskan untuk mengecat tembok rumah Anda dengan warna kesukaannya: pink! Sofa kesa-yangan Anda sudah lenyap diganti dengan yang lain. Bahkan teman Anda yang baik hati mengambil inisiatif memugar kamar tidur Anda. Bisa dibayangkan betapa terkejut bercampur marahnya diri Anda.
“Kok rumah saya jadi begini?”
“Katanya suruh anggap rumah sendiri,” jawab teman Anda tanpa merasa bersalah.Itu yang juga sering kita lakukan. Karena kita menganggap hidup kita, uang kita, pekerjaan kita adalah milik kita. Karena kita merasa punya kehendak bebas. Kita berlaku seenaknya dengan hidup kita, uang kita, pekerjaan kita tanpa menyadari bahwa kita hanya diminta menjaga, semuanya itu masih milik Tuhan. (Jo)
Apakah saya menggunakan hidup dan milik saya sesuai kehendak Tuhan?————–
33 ”Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.
34 Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya.
35 Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu.
36 Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak dari pada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka.
37 Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani.
38 Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita.
39 Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya.
40 Maka apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?”
41 Kata mereka kepada-Nya: ”Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.”
42 Kata Yesus kepada mereka: ”Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.
43 Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.45 Ketika imam-imam kepala dan orang-orang Farisi mendengar perumpamaan-perumpamaan Yesus, mereka mengerti, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya.
46 Dan mereka berusaha untuk menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada orang banyak, karena orang banyak itu menganggap Dia nabi. -
Kamis, 4 Maret 2010
Posted on March 3rd, 2010 No commentsYer 17:5-10
Mzm 1:1-4,6
Luk 16:19-31Berserah
…mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang
yang bangkit dari antara orang mati. - Luk 16:31Berserah adalah hal yang mudah dikatakan tapi susah dilakukan. Apalagi bila menyangkut sesuatu yang sangat kita inginkan. Kita sering dibutakan oleh akal rasional atau emosi kita untuk terus mengejar dan mendapatkannya. Kita berjuang mati-matian dan lupa kalau sebetulnya kita harus berserah. Misalnya kita mengejar orang yang kita sukai dengan segala cara, sampai akhirnya kita lupa berdoa agar Tuhan memberikan yang terbaik.
Saking letihnya berusaha, kita jatuh dalam keputus-asaan. Baru kemudian kita berserah kepada Tuhan. Repotnya lagi, dalam penyerahan itu kita berharap terjadi mukzijat, yang datang untuk mewujudkan keinginan kita. Sebagai manusia, seringkali kita mengharapkan sesuatu yang supernatural. Tidak heran acara sulap mendapat rating tertinggi di TV beberapa bulan yang lalu.
Hal yang sama terjadi seperti orang kaya dalam Injil hari ini. Ia tahu para nabi sudah memperingatkan pertobatan, tetapi ia dan saudara-saudaranya menutup telinga. Akhirnya di tengah keputus-asaannya, dia meminta mukjizat agar Lazarus kembali ke dunia untuk memperingatkan saudara-saudaranya. Dia percaya bahwa kedatangan Lazarus yang supernatural akan membuat mereka mendengar.Berserah seharusnya tidak dilakukan di akhir usaha, tetapi dilakukan dari awal. Sejak timbul masalah atau keinginan, sudah seharusnya kita menyerahkannya kepada Tuhan. Tidak selayaknya kita mengharapkan mukjizat datang untuk memenuhi keinginan pribadi. Karena Dia tahu yang terbaik yang kita butuhkan, bukan yang terbaik yang kita inginkan. (Ch)
Kapan kita mulai berserah dalam setiap masalah?
———————
19 ”Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.
30 Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” -
Rabu, 3 Maret 2010
Posted on March 2nd, 2010 No commentsYer 18:18-20
Mzm 31:5-6,14-16
Mat 20:17-28Melayani dengan Tulus Hati
Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu
hendaklah ia menjadi pelayanmu. - Mat 20:26Awal 2005 saya memutuskan ikut aktif dalam kegiatan rohani di kampus yang disebut Pastoran. Kegiatan itu dipimpin seorang pastor dan dibantu oleh Dewan Harian, sama seperti paroki. Saat itu saya diminta untuk menjadi seksi dekorasi selama setahun. Secara struktur, saya berada di bawah Dewan Harian.
Sebelum sah menjadi pengurus, kami diharuskan mengikuti kaderisasi selama tiga hari dua malam. Acara tersebut diikuti oleh seluruh Dewan Harian lama dan pengurus baru. Kaderisasi bertujuan membentuk setiap pribadi calon pengurus untuk taat dan setia terhadap tugas dan tanggungjawab yang akan diemban selama satu tahun ke depan. Terlebih lagi, kami ditempa agar memiliki hati yang tulus untuk terus melayani.
Pada malam terakhir, diadakan acara pembasuhan kaki. Kami sebagai pengurus baru duduk di kursi, dan para Dewan Harian lama menghampiri kami satu per satu, membasuh kaki kami dan menciumnya. Kami semua terharu, bahkan sampai menitikkan air mata. Yang kami pikirkan saat itu adalah, “Bagaimana mungkin mereka yang telah memiliki jabatan tinggi dan telah lebih berpengelaman, dengan begitu rendah hati mencium kaki kami.” Namun akhirnya kami tahu bahwa acara tersebut dimaksudkan agar setiap pengurus baru memiliki kerendahan hati untuk senantiasa melayani Tuhan. Karena seperti Injil hari ini, mereka yang akan menjadi besar adalah mereka yang melayani dengan setia dan tulus. (Ve)
Apakah saya lebih sering ingin melayani atau malah dilayani?
——————–
17 Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan:
18 ”Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.
19 Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”
20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.
21 Kata Yesus: ”Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: ”Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”
22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: ”Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: ”Kami dapat.”
23 Yesus berkata kepada mereka: ”Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”
24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.
25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: ”Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.
26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,
27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;
28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” -
Selasa, 2 Maret 2010
Posted on March 1st, 2010 No commentsYes 1:10,16-20
Mzm 50:8-9,16bc-17,21,23
Mat 23:1-12
MelayaniBarangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.
- Mat 23:11Ayat di atas membawa ingatan saya kembali ke beberapa tahun silam. Ketika saya masih seorang single dan hidup sebagai seorang misionaris. Dan salah satu pelayanan rutin yang saya lakukan adalah memasang sound system untuk pertemuan komunitas kami. Karena kegiatan itu kami adakan di salah satu rumah anggota komunitas, maka cukup banyak kesempatan saya bertemu dengan pemilik rumah.
Setiap kali bertemu, saya pasti ditanya apakah sudah makan. Tapi apapun jawaban saya, pemilik rumah ini pasti akan meminta pembantunya untuk segera menyiapkan makanan untuk saya. Begitu saya selesai dengan semua pekerjaan pasang-memasang itu, saya segera dipanggil untuk makan. Dengan murah hati dan senyum, sang pemilik rumah akan melayani dengan mengambilkan makanan dan juga duduk menemani. Ya, yang dilakukannya hanyalah duduk sembari tersenyum melihat saya yang makan dengan sangat lahap.
Pengalaman ini mengajarkan saya tentang arti kerendahan hati dan arti sebuah pelayanan. Pelayanan tidak harus melulu hal-hal rohani. Tetapi pelayanan mencakup semua aspek hidup kita. Pelayanan kita tidak hanya di gereja, di persekutuan doa, atau di komunitas. Tetapi pelayanan kita juga harus diwujudkan di tempat kita bekerja, dan terutama di rumah kita sendiri.
Hari ini, saya menemukan bahwa diri saya masih sangat jauh dari “seorang pelayan”. Saya masih ingin menonjolkan diri saya lewat apa yang saya lakukan, masih ingin dilayani dan dihibur. Namun hal itu justru menyadarkan saya untuk berubah dan diperbarui sehingga saya layak disebut seorang pelayan. (PS: Thanks Mi for inspiring me to become servant!) (An)
Apakah saya masih ingin menjadi yang terbesar dalam pelayanan?
—————-
1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:
2 ”Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.
3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.
4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.
5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;
6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;
7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.
8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.
9 Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.
10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.
11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.
12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan. -
Senin, 1 Maret 2010
Posted on February 28th, 2010 No commentsDan 9:4b-10
Mzm 79:8-9,11,13
Luk 6:36-38
Murah hatiHendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.
- Luk 6:36Saya terkenang pengalaman beberapa tahun lalu ketika mengunjungi putera saya yang saat itu melayani sebagai misionaris awam. Setiap hari saya diajak ikut pelayanan ke tempat pembuangan sampah, dan pengalaman ini meninggalkan kenangan yang sangat mendalam bagi hidup saya.
Saya ingat sekelompok ibu diminta untuk mensharingkan pengalaman Natal bersama keluarganya masing-masing. Dan tiba giliran seorang ibu dengan tiga anak yang masih kecil-kecil bercerita. Suaminya tidak pulang pada malam Natal, bahkan sampai berhari-hari. Ia pun terpaksa pergi ke pabrik untuk mencuci botol agar bisa mendapat upah, dan anaknya pergi memilah sampah sebagai upahan harian. Dengan demikian mereka dapat bertahan hidup dan bisa makan pada hari Natal itu. Ketika suaminya pulang, ia malah dalam keadaan mabuk dan marah-marah terhadap seisi rumah. Ibu itu hanya berkata, “Bukan hak saya untuk menghakimi suami saya, tapi itu adalah hak dari Sang Hakim Agung yang akan mengadili dia dengan lebih adil.”
Sejenak saya tertegun. Betapa murah hatinya ibu ini pada suaminya yang sudah mengabaikannya. Ketabahan hati yang luar biasa. Saya merasa bangga boleh mendengar kesaksian hidup dalam kesederhanaan namun memberikan praktek hidup yang nyata. (Lid)
Tuhan, ajar saya untuk terus bersabar menghadapi hal-hal yang tidak adil di sekitar saya.
———
36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”
37 ”Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.
38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”








