-
Minggu, 7 Maret 2010
Posted on March 6th, 2010 No commentsHari Minggu Prapaskah III
Kel 3:1-8a,13-15
Mzm 103:1-4,6-8,11
1Kor 10:1-6,10-12
Luk 13:1-9
Tungku Peleburan
Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. - Kel 3:2Pada awal pertemuannya dengan Allah, Musa melihat semak belukar yang menyala tetapi tidak terbakar. Ia melihat kemuliaan Tuhan yang nyata dan luar biasa. Setelah itu Musa menjadi semakin dekat dengan Allah dan terbiasa untuk berbicara de-ngan Allah sambil memandang kemuliaan Allah. Setelah sekian lama, ketika Musa telah membawa orang Israel keluar dari Mesir dan ketika menerima tabut perjanjian, sekarang wajah Musa yang menjadi bercahaya memancarkan kemuliaan Tuhan yang hadir di dalam dia (Kel 34:29-30).
Hal ini mengingatkan saya pada proses pembentukan besi baja. Saat tukang besi membentuk sesuatu dari baja secara tradisional, ia akan memanaskannya di sebuah tungku api sebelum ditempa. Ketika panasnya sudah cukup untuk ditempa, baja tersebut akan berubah warnanya menjadi bercahaya dan cemerlang, menyatu dengan warna perapian. Tetapi apabila dijauhkan, baja tersebut mendingin dan warnanya kembali seperti semula.
Suatu hal yang dapat menjelaskan mengapa wajah Musa memancarkan kemuliaan Tuhan adalah karena Musa sangat dekat dengan Allah. Kedekatan kita dengan Allah juga bisa diukur dari seberapa jauh kita telah diubah semakin menyerupai Allah, seberapa kita terbuka terhadap pimpinan dan tuntunan Tuhan dalam hidup kita. Semoga semakin lama kita semakin menyerupai Dia dan tetap terbuka terhadap pembentukan Tuhan atas diri kita. (Pt)
Masihkah saya terbuka untuk terus diubah menjadi serupa dengan Yesus?
————————
Luk 13 : 1 -91 Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene,
2 pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun.
3 Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: ”Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu,
4 seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.
5 Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan,
6 dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.”
7 Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: ”Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu supaya melarikan diri dari murka yang akan datang?
8 Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!
9 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api.” -
Sabtu, 6 Maret 2010
Posted on March 6th, 2010 No commentsMi 7:14-15,18-20
Mzm 103:1-4,9-12
Luk 15:1-3,11-32
Pengampunan DosaSebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali,
ia telah hilang dan didapat kembali. - Luk 15: 24Untuk apa mengaku dosa kalau setelah itu kita akan berdosa lagi? Menurut saya ini sama seperti mengatakan, “Untuk apa minta maaf kepada…, kalau di kemudian hari kita akan berbuat salah lagi?”
Tentunya logika ini tidak benar. Karena rahmat pengampunan akan membantu kita semakin menjauhi dosa, dan kita akan merasa lega dan terbebas setelah diberi absolusi. Sebaliknya, justru logika yang salah itu akan dipakai oleh iblis untuk membohongi kita supaya menjauhi rahmat Tuhan yang ada dalam Sakramen Pengakuan.
Perumpamaan tentang anak yang hilang menggambarkan dengan jelas seperti apakah pengampunan dosa itu. Sukacita dan penerimaan sang ayah akan anaknya menggambarkan hati Bapa di surga ketika kita bertobat. Si anak pun diangkat dari dosanya dan kembali menjadi bagian dari keluarga ayahnya.
Dalam masa Prapaskah ini, seruan untuk bertobat dan me-ngaku dosa sering kita dengar. Bahkan Gereja memberikan waktu khusus untuk umat menerima Sakramen Pengakuan Dosa sebelum merayakan Paskah. Marilah kita menggunakan sarana yang telah Tuhan berikan ini agar kita dapat sungguh-sungguh bangkit bersama Tuhan saat perayaan kebangkit-anNya nanti. (Alw)
Apakah saya sudah menyiapkan hati dan menerima Sakramen Pengakuan
dalam masa Prapaskah ini?——————
1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: ”Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”
3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:11 Yesus berkata lagi: ”Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.
12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.
14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat.
15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.
16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya.
17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,
19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.
23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.
24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian.
26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu.
27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
28 Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia.
29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.
30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.
31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.
32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”








